Artikel Terbaru
Kenali 5 Jenis Jaringan Komputer - Perwira Learning Center
Routing OSPF : Pengertian dan Cara Kerjanya - Perwira Learning Center
Dynamic Routing | Pengertian dan Jenisnya - Perwira Learning Center
Latar Belakang
Apa Itu Dynamic Routing?
Dynamic Routing adalah metode routing di mana router secara otomatis mengetahui dan memperbarui tabel routing berdasarkan informasi yang diterima dari router lain melalui protokol routing tertentu. Dengan demikian, router dapat menyesuaikan jalur pengiriman data secara dinamis tanpa perlu campur tangan manual dari administrator jaringan setiap kali terjadi perubahan jaringan.
Pada dasarnya, dynamic routing menggunakan algoritma dan protokol routing untuk bertukar informasi tentang keadaan jaringan, seperti jalur mana yang tersedia, metrik jalur (misalnya jumlah hop, bandwidth, delay), dan kondisi link (aktif atau down). Informasi ini kemudian digunakan untuk menentukan rute terbaik yang akan dipilih untuk mengirimkan paket data. Routing dynamic ini lebih mudah dilakukan daripada menggunakan routing static dan default.
Analogi
Dalam analogi ini, Router diibaratkan pengemudi yang memegang aplikasi tersebut, dan Protokol Routing adalah sistem GPS-nya. Mereka saling bertukar informasi mengenai kemacetan (bandwidth/delay) dan jalan buntu (link down). Hasilnya, perjalanan data menjadi lebih efisien karena sistem selalu tahu jalur mana yang paling lancar berdasarkan kondisi terkini di lapangan, sangat berbeda dengan Static Routing yang ibaratnya seperti dipaksa lewat satu jalan tertentu berdasarkan hafalan lama, meskipun jalan tersebut sedang ditutup total.
Jenis-Jenis Protokol Routing Dynamic
Seiring perkembangan waktu, pastinya jaringan komputer sudah banyak sekali jenis-jenis protokol yang ada pada routing dynamic yang di terapkan saat ini, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. RIP (Routing Information Protocol)
Routing Information Protocol (RIP) adalah protokol routing dinamis berjenis distance vector yang digunakan untuk pertukaran informasi routing (tabel routing) antar router secara otomatis dalam jaringan kecil hingga menengah. RIP menggunakan metrik jumlah hop (maksimal 15) untuk menentukan jalur tercepat.RIP terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
A. RIPv1 (RIP versi 1)
1. Hanya mendukung routing class-full
2. Tidak ada info subnet yang di masukkan dalam data perbaikan routing 3. Tidak mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask)
4. Adanya fitur perbaikan routing broadcast
B. RIPv2 (RIP versi 2)
1. Mendukung adanya routing class-full dan class-less
2. Info subnet dimasukkan dalam data perbaikan routing
3. Mendukung adanya VLSM (Variabel Length Subnet Mask)
4. Perbaikan routing multicast
Kelebihan RIP
1. Menggunakan metode “Triggered Update”
2. Memiliki timer untuk mengetahui kapan router harus kembali memberikan informasi
3. Mengatur routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link pada jaringan.
Kekurangan RIP
1. Jumlah host terbatas.
2. RIP tidak memiliki informasi tentang subnet setiap route.
3. RIP tidak mendukung Variable Length Subnet Masking (VLSM).
2. IGRP (Interior Gateway Routing Protocol)
IGRP adalah suatu penjaluran jarak antara vektor protokol, bahwa masing-masing penjaluran bertugas untuk mengirimkan semua atau sebagian dari isi table penjaluran dalam penjaluran pesan untuk memperbaharui pada waktu tertentu untuk masing-masing penjaluran.
IGRP adalah jenis protocol routing yang menggunakan Autonomous System (AS) yang dapat menentukan routing berdasarkan system interior atau exterior.
Kelebihan IGRP
1. Skalabilitas Tinggi: Mendukung jaringan besar dengan batas hop hingga 255, jauh lebih baik daripada RIP (15 hop).
2. Memperhitungkan bandwidth, delay, keandalan (reliability), dan beban (load) untuk menentukan rute terbaik, bukan sekadar jumlah hop.
3. Sangat stabil untuk jaringan yang kompleks.
4. Pembaruan rute otomatis saat terjadi perubahan topologi.
Kekurangan IGRP
1. Hanya berfungsi pada perangkat Cisco, tidak bisa digunakan dalam lingkungan multi-vendor.
2. Konfigurasi lebig rumit.
3. Lambat dalam mendeteksi perubahan jaringan.
3. OSPF (Open Short Path First)
OSPF (Open Shortest Path First ) merupakan sebuah routing protokol berjenis IGP (interior gateway routing protocol) yang hanya dapat bekerja dalam jaringan internal suatu ogranisasi atau perusahaan. OSPF menggunakan algoritma Dijkstra, dimana routing OSPF mampu menghitung jalur terpendek dan mempertimbangkan faktor-faktor seperti kecepatan link, beban jaringan, dan metrik lainnya dalam pengambilan keputusan routing. OSPF menggunakan database link-state yang disebut OSPF Link-State Database (LSDB) untuk menyimpan informasi tentang topologi jaringan dan menggunakan algoritma SPF (Shortest Path First) untuk menghitung jalur terpendek menuju tujuan.Kelebihan OSPF
1. Tidak menghasilkan routing loop
2. Mendukung penggunaan beberapa metrik sekaligus
3. Bisa menghasilkan banyak jalur ke tujuan untuk membagi jaringan yang besar menjadi beberapa area
4. Waktu yang di perlukan untuk konvergen lebih cepat.
Kekurangan OSPF
1. Memerlukan pemahaman teknis mendalam dan konfigurasi lebih rumit dibanding RIP.
2. Memerlukan CPU dan RAM yang cukup besar untuk menghitung algoritma SPF dan menyimpan tabel link-state.
3. Pada topologi yang sangat besar, hitungan ulang rute bisa memakan waktu.
4. Jika pembagian area tidak benar, dapat menyebabkan masalah routing.
4. EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
Protokol routing ini menggunakan algoritma advanced distance vector dan menggunakan cost load balancing yang tidak sama. Algoritma yang dipakai adalah kombinasi antara distance vector dan link-state, serta menggunakan Diffusing
Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung jalur terpendek. Broadcast-broadcast EIGRP di update setiap 90 detik ke semua router EIGRP yang berdekatan. Setiap update hanya memasukkan perubahan jaringan.
EIGRP sangat cocok untuk diterapkan pada jaringan komputer yang besar. IGRP dan EIGRP sama-sama sudah mempertimbangkan masalah bandwith yang ada dan delay yang terjadi.
Kelebihan EIGRP
1. Melakukan konvergensi secara tepat ketika menghindari loop
2. Memerlukan lebih sedikit memori dan proses
3. Adanya fitur “Loop Avoidance”
Kekurangan EIGRP
1. Konfigurasi advanced dan pemeliharaannya lebih rumit dibanding protokol sederhana seperti RIP.
2. Dukungan Vendor Terbatas.
3. Semua router EIGRP harus memiliki nomor AS yang sama, yang bisa membatasi fleksibilitas topologi besar.
5. BGP (Border Gateway Protocol)
Kelebihan BGP
1. Mampu menangani tabel perutean besar di internet global.
2. Memungkinkan administrator mengatur jalur lalu lintas berdasarkan kebijakan tertentu, bukan sekadar jalur terpendek.
3. Sangat baik dalam menangani kegagalan jaringan dan mengalihkan lalu lintas (failover).
4. Dapat berkomunikasi dengan berbagai vendor router, penting untuk menghubungkan berbagai ISP
Kekurangan BGP
1. Pengaturan manualnya rumit, sehingga rawan kesalahan.
2. Membutuhkan waktu lebih lama untuk memperbarui rute saat terjadi perubahan dibandingkan protokol interior seperti OSPF.
3. Rentan terkena BGP hijacking (pembajakan rute) atau kebocoran rute (route leaks) yang dapat mengganggu lalu lintas internet.
4. Membutuhkan sumber daya yang tinggi.
Hasil Pembelajaran
Melalui materi ini, saya dapat mengenal berbagai bahasa atau protokol yang digunakan router untuk saling berbagi peta jaringan. Saya mengetahui bahwa setiap protokol memiliki karakteristik unik, RIP cocok untuk jaringan sederhana karena kemudahannya meski kapasitasnya terbatas, sementara OSPF dan EIGRP menawarkan kecepatan dan ketangguhan untuk jaringan skala perusahaan yang besar dengan perhitungan jalur yang lebih akurat. Selain itu, kita memahami peran vital BGP sebagai pengatur lalu lintas data antar penyedia layanan internet (ISP) di seluruh dunia. Pengetahuan ini memberikan gambaran jelas bahwa pemilihan protokol routing harus disesuaikan dengan kebutuhan, perangkat yang digunakan (vendor), serta seberapa besar skala jaringan yang dikelola agar pengiriman data tetap stabil dan efisien.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Dynamic Routing adalah nyawa dari internet modern yang memungkinkan konektivitas global berjalan secara otomatis dan adaptif. Keunggulan utamanya terletak pada efisiensi waktu, kemudahan pemeliharaan, dan kemampuan pemulihan jalur yang cepat saat terjadi gangguan. Meskipun beberapa protokol memerlukan spesifikasi perangkat yang tinggi atau konfigurasi yang rumit, penggunaan routing dinamis jauh lebih unggul dibandingkan routing statis untuk skala jaringan menengah hingga besar. Dengan memilih protokol yang tepat—baik itu yang fokus pada kecepatan dalam internal kantor maupun yang fokus pada jangkauan global internet—sebuah jaringan dapat beroperasi secara optimal dan minim gangguan.
